“Karakter adalah akar, akademik adalah buah. Jika akar kuat, pohon akan tumbuh sehat dan menghasilkan buah yang baik. Maka, pendidikan karakter harus menjadi dasar, bukan pelengkap”.
Di tengah maraknya perlombaan mengejar nilai akademik di sekolah, satu hal yang kerap dilupakan adalah esensi sejati dari pendidikan, ialah pembentukan karakter.
Di banyak sekolah, keberhasilan siswa diukur dari angka-angka di rapor, peringkat di kelas, atau capaian ujian nasional.
Padahal, nilai bukan satu-satunya indikator keberhasilan seseorang dalam hidup.
Pendidikan karakter mengajarkan nilai-nilai penting seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, toleransi, dan empati.
Karakter adalah fondasi utama dalam membentuk pribadi yang berintegritas dan siap menghadapi tantangan dunia nyata.
Dunia kerja dan masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tapi juga orang baik. Cerdas saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan moral yang kuat.
Kita bisa melihat betapa banyaknya kasus kenakalan remaja, kekerasan di sekolah, hingga korupsi di tingkat tinggi yang berakar dari hilangnya pendidikan karakter sejak dini.
Ini adalah sinyal bahwa sistem pendidikan terlalu fokus pada kognitif dan melupakan aspek afektif dan moral.
Ironisnya, siswa sering kali diajarkan cara menjawab soal, tapi tidak diajarkan cara bersikap jujur saat ujian.
Nilai akademik memang penting. Namun, jika sekolah hanya mendewakan angka dan rangking, maka kita sedang membentuk generasi yang haus pengakuan tapi kosong integritas.
Sebaliknya, siswa yang memiliki karakter kuat akan tetap bisa belajar, berkembang dan berkontribusi secara positif meski nilainya biasa saja.
Pendidikan karakter tidak harus menjadi pelajaran tersendiri. Ia bisa diintegrasikan dalam keseharian, proses belajar, interaksi antara guru dan siswa, serta dalam budaya sekolah.
Keteladanan guru, pembiasaan nilai-nilai baik, dan penghargaan terhadap sikap positif harus menjadi bagian dari sistem.
Sudah saatnya sekolah kembali ke ruh utamanya, yakni mendidik manusia, bukan sekadar menghasilkan angka. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi masih sangat membutuhkan lebih banyak orang berkarakter. (*)