• Call: +62 896-5480-0827
  • E-mail: admin@suaraedu.com
suaraedu
  • Home
  • Berita
  • Informasi
  • Profil Sekolah
    • SD
    • SMP
  • Pengumuman
No Result
View All Result
Suara Edukasi
No Result
View All Result
Home Berita

Ketika Nilai Jadi Tujuan, Karakter Terabaikan

15 Juli 2025
in Berita
Ketika Nilai Jadi Tujuan, Karakter Terabaikan
Share on FacebookShare on TelegramBagikan

“Karakter adalah akar, akademik adalah buah. Jika akar kuat, pohon akan tumbuh sehat dan menghasilkan buah yang baik. Maka, pendidikan karakter harus menjadi dasar, bukan pelengkap”.

Di tengah maraknya perlombaan mengejar nilai akademik di sekolah, satu hal yang kerap dilupakan adalah esensi sejati dari pendidikan, ialah pembentukan karakter.

Di banyak sekolah, keberhasilan siswa diukur dari angka-angka di rapor, peringkat di kelas, atau capaian ujian nasional.

Padahal, nilai bukan satu-satunya indikator keberhasilan seseorang dalam hidup.

Pendidikan karakter mengajarkan nilai-nilai penting seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, toleransi, dan empati.

Karakter adalah fondasi utama dalam membentuk pribadi yang berintegritas dan siap menghadapi tantangan dunia nyata.

Dunia kerja dan masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tapi juga orang baik. Cerdas saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan moral yang kuat.

Kita bisa melihat betapa banyaknya kasus kenakalan remaja, kekerasan di sekolah, hingga korupsi di tingkat tinggi yang berakar dari hilangnya pendidikan karakter sejak dini.

Ini adalah sinyal bahwa sistem pendidikan terlalu fokus pada kognitif dan melupakan aspek afektif dan moral.

Ironisnya, siswa sering kali diajarkan cara menjawab soal, tapi tidak diajarkan cara bersikap jujur saat ujian.

Nilai akademik memang penting. Namun, jika sekolah hanya mendewakan angka dan rangking, maka kita sedang membentuk generasi yang haus pengakuan tapi kosong integritas.

Sebaliknya, siswa yang memiliki karakter kuat akan tetap bisa belajar, berkembang dan berkontribusi secara positif meski nilainya biasa saja.

Pendidikan karakter tidak harus menjadi pelajaran tersendiri. Ia bisa diintegrasikan dalam keseharian, proses belajar, interaksi antara guru dan siswa, serta dalam budaya sekolah.

Keteladanan guru, pembiasaan nilai-nilai baik, dan penghargaan terhadap sikap positif harus menjadi bagian dari sistem.

Sudah saatnya sekolah kembali ke ruh utamanya, yakni mendidik manusia, bukan sekadar menghasilkan angka. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi masih sangat membutuhkan lebih banyak orang berkarakter. (*)

Tags: Bupati OKU TimurDìnas Pendìdikan dan Kebudayaan OKU TimurKemendikbud riset RI
Previous Post

Dua Siswa SMPN 2 Semendawai Timur Lolos Seleksi OPSI 2025, Angkat Isu Cyber Bullying dan Depresi pada Generasi Alfa

Next Post

TP PKK OKU Timur Launching Kursus Bahasa Inggris Gratis untuk Anak SD

Leave Comment
  • Atlet Pelajar OKU Timur Borong Medali di Kemenhan CUP, Kadisdibud Sampaikan Apresiasi

    Atlet Pelajar OKU Timur Borong Medali di Kemenhan CUP, Kadisdibud Sampaikan Apresiasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Semangat Baru di SMPN 1 Belitang, Hari Pertama Sekolah Penuh Keceriaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Semarak Hari Anak Nasional, SMPN 1 Bunga Mayang Kenalkan Permainan Tradisional Kepada Siswa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelajar SMPN 1 Belitang Madang Raya Sabet Juara Nasional Essay Ilmiah 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketulusan Guru SDN 19 Martapura Merawat Sekolah di Tengah Sepi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Informatif, Edukatif dan Terpercaya

© 2025 SUARA EDUKASI

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Informasi
  • Profil Sekolah
    • SD
    • SMP
  • Pengumuman

© 2025 SUARA EDUKASI